Penulis: Rena Dwi Astuti
Pernahkah kamu kehabisan kata-kata atau bingung mengekspresikan perasaanmu ke dalam kalimat saat sedang chatting dengan orang lain di aplikasi media sosial? Apakah kamu menggunakan emoji sebagai pengganti kata-kata tersebut sebagai luapan ekspresimu?
Ya, emoji sering kali digunakan seseorang untuk menggantikan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Secara tidak langsung, hal itu membuat setiap emoji pada keyboard smartphone bisa memiliki arti masing-masing.
Tetapi, pernahkah kamu berpikir, mengapa emoji ini bisa menggantikan kata-kata? Kapan pertama kalinya emoji menggantikan perasaan yang sulit diungkapkan?
Psychology Today menjelaskan bahwa penggunaan emoji dalam chat adalah sebuah strategi komunikasi modern yang berkembang saat ini, sesuai dengan perkembangan teknologi. Orang-orang sering kali menggunakan emoji untuk beberapa kepentingan. Seperti menyotor emosi, memberikan penekanan, atau sekadar memperindah pesan.
Bagi pekerja konten kreator, emoji kadang mereka gunakan untuk bahan membuat konten di media sosial Instagram, X, hingga TikTok. Banyak bentuk konten media sosial yang menggunakan emoji, seperti dalam takarir (caption), konten kuis, atau penegasan isu dalam sebuah konten.
Percepatan Komunikasi Digital
Saat ini lebih dari sekitar 3000 emoji ada di dalam gadget untuk aplikasi chatting seperti Whatsapp atau iMessage. Sebelum era teknologi berkembang dengan sangat pesat seperti saat ini, sebenarnya orang-orang telah menggunakan emoji dengan terbatas.
Orang-orang kebanyakan menggunakan simbol-simbol dalam keyword gadget mereka untuk menyampaikan perasaan. Misalnya “<3” sebagai simbol hati, “:-)” sebagai simbol senyum, dan “:-(“ sebagai simbol sedih. Simbol-simbol ini sebenarnya adalah pintu pertama dari kehadiran ribuan emoji saat ini.

Seiring dengan perkembangan teknologi, gaya seseorang dalam berkomunikasi di ruang digital juga berubah. Orang-orang kerap menggunakan emoji dalam pesan mereka dengan berbagai tujuan, mulai dari penyampaian emosi, penegasan pesan, hingga merespon pesan negatif.
Psychology Today mengatakan bahwa penggunaan emoji berkembang seiring dengan percepatan komunikasi digital saat ini. Emoji dapat membuat seseorang mengirim pesan dengan lebih efisien dan cepat. Misalnya, emoji ibu jari dapat diartikan sebagai “oke” atau “baik”. Tanpa orang tersebut harus menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Apakah Emoji adalah Sinonim Emosi?
Monica Riordan dari Psychology Today, mengatakan jika emoji bukanlah sebuah bahasa, karena tidak memiliki seperangkat aturan yang jelas. Namun, kemampuan komunikasi emoji diperkuat karena fleksibilitas dan keunikannya. Karena tidak terikat oleh aturan bahasa, emoji mengajak pengguna untuk mempertimbangkan potensi besar yang dimiliki emoji dalam berkomunikasi.
Satu hal yang unik dari komunikasi menggunakan emoji adalah interpretasi emoji sepenuhnya tergantung pada pikiran pembaca atau penerima pesan. Misalnya, emoji tangan tos yang juga dianggap emoji berdoa. Atau emoji cium yang dianggap sebagai emoji bersiul.
Hal yang paling terlihat dalam kolom emoji saat ini adalah bentuk hati dengan berbagai warna. Ternyata, setiap emoji hati yang memiliki warna berbeda, mempunyai makna dan arti yang berbeda pula.
Misalnya, hati merah artinya “aku mencintaimu,” hati biru diartikan perasaan sayang untuk saudara atau sahabat, sedangkan hati hitam menyimbolkan perasaan cinta yang sangat romantis dan mendalam.

Jack Thorne dalam series Netflix Adolescence (2025) bahkan menyelipkan arti emoji hati dalam serial terbarunya ini. Ia menjelaskan, lewat pemeran Adam, hati ungu berarti terangsang, hati kuning berarti “aku tertarik, apakah kamu tertarik?”, hati merah muda berarti “aku tertarik, tetapi bukan seks”, oranye berarti “kamu akan baik-baik saja”.
Selain emoji hati, Thorne juga menjelaskan makna dari emoji-emoji lain dalam series tersebut. Ada banyak makna yang terdapat dalam sebuah emoji, bahkan hingga memengaruhi kehidupan seseorang.
Dari banyaknya interprestasi atas emoji ini, penafsiran emoji menjadi sangat fleksibel, tergantung pada sejumlah faktor seperti siapa yang mengirim dan dalam konteks apa. Akan tetapi, jika melihat emoji sebagai sebuah bentuk ekspresi seseorang, hal itu dapat berpontensi menimbulkan miskomunikasi.
Monica menjelaskan, karena fleksibilitas emoji ini, penting untuk memastikan bahwa penerimanya dapat membaca emoji sebagai suatu hal yang positif. Pada akhirnya, Monica menyimpulkan bahwa penggunaan emoji sebagai bentuk ekspresi perasaan tidak dapat digunakan untuk berita negatif.
Sebab, jika bermaksud menyampaikan pesan negatif, emoji akan membuat pesan tersebut tampak kurang negatif. Dari sini, walaupun terlihat fleksibel, sebenarnya emoji memiliki keterbatasan. Yaitu membuat pesan yang disampaikan jadi kurang serius atau hanya cocok dalam konteks percakapan yang positif dan santai.