Pemain profesional League of Legends (LoL) asal Korea Selatan, Faker, baru saja menerima penghargaan bergengsi dari Presiden Lee Jae Myung. Faker yang bernama asli Lee Sang Hyeok menerima Penghargaan Cheongnyong Medal atas kiprahnya di dunia esport, Jumat (02/01).
“Halo, saya Faker. Saya merasa tersanjung menerima (penghargaan) Cheongnyong Medal hari ini. (Penghargaan) ini sangat luar biasa bermakna bagi saya. Saya percaya bahwa saya menerima penghargaan ini oleh karena para penggemar saya yang selalu memberikan cinta dan dukungan (serta) dari semuanya yang memberi dukungan kepada saya,” ucap Faker.
“Hal tersebut membuat penghargaan ini (terasa) bahkan lebih spesial. Saya benar-benar bersyukur atas penghargaan yang bergengsi dari negara. Ke depannya, saya akan terus memberikan yang terbaik sebagai seorang gamer profesional untuk membanggakan kalian semua dan selalu menjadi inspirasi yang positif. Saya mengucapkan selamat tahun baru untuk kalian semua!,” tutupnya.
Penghargaan Cheongnyong Medal sendiri merupakan penghargaan tertinggi dalam dunia olahraga dari pemerintah Korea Selatan. Hanya atlet-atlet yang telah meraih prestasi tertentu saja yang berhasil mendapatkannya. Di antaranya Son Heung Min (pemain sepak bola), dan Oh Hye Ri (atlet taekwondo).
Kiprah Faker sebagai pemain pro player LoL memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Sosoknya bahkan mendapat cap GOAT atau Greatest of All Time di dunia e-sport. Media ESPN bahkan menyebut Faker sebagai Michael Jordannya LoL.
Bukan hanya mengukir prestasi secara nasional, Faker bahkan berhasil menunjukkan taringnya secara internasional.
Kiprah di LoL

Karier Faker di dunia LoL disebut-sebut sebagai salah satu kisah tersukses sepanjang esport. Ia memulai debutnya sebagai pemain pro di tahun 2013 dengan bergabung bersama tim SK Telecom T1 2, kini telah berubah nama menjadi Telecom T1 atau T1.
Tim Telecom T1 tersebut lah yang kemudian membawanya menjadi “legenda hidup” di dunia LoL. Namanya kemudian mencuri perhatian dunia saat debut di OGN Champions Springs 2013.
Salah satu momen paling ikonik adalah saat Faker menggunakan LeBlanc melawan Zed milik Ryu dari KT Rolster Bullets. Pertarungan tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu outplay terbaik sepanjang sejarah LoL.
Selama kariernya di LoL, ia dikenal dengan gaya bermainnya yang agresif. Ia dikenal memiliki pemahaman makro (strategi luas) dan mikro (mekanik individu) yang luar biasa. Kemampuan tersebut menciptakan konsisten dan adaptabilitas di level tertinggi.
Selain itu, ia juga dikenal mampu memainkan hampir semua champion di mid lane sehingga sulit memprediksi perlawannya. Champion ikonik miliknya antara lain LeBlanc, Zed, Azir, Orianna, dan Ryze.
Catatan prestasi Faker
Kepopuleran Faker bukan semata-mata karena dia jago saja. Ia telah membuktikan diri dengan meraih enam Kejuaraan Dunia LoL bersama T1. Kemenangan tersebut diraih di tahun 2013, 2015, 2016, 2023, 2024, dan 2025. Ia juga meraih sepuluh gelar Liga Korea, dua gelar Mid-Season Invitational (MSI), hingga penghargaan lain seperti MVP.
Dan terbaru, Faker meraih Penghargaan Cheongnyong Medal dari Presiden Korea Selatan yang menambah daftar panjang prestasinya.
Di sisi lain, bukan hanya dikenal sebagai pemain LoL berprestasi, Faker juga disebut sebagai ikon budaya dan duta eSports global. Wajahnya muncul di banyak kampanye promosi brand besar seperti Nike, BMW, hingga Samsung.
Meski demikian, jalan karier Faker tidak sepenuhnya mulus. Sepanjang tahun 2017 hingga 2023 bisa dibilang merupakan masa kelam dalam kariernya. Bahkan, tak sedikit yang menganggap jika era kejayaan Faker telah berakhir sejak tahun 2016.
Di tahun 2017, SKT T1 kalah 0-3 dari Samsung Galaxy di final World Championship 2017. Ia bahkan sampai menangis di meja komputer setelah pertandingan. Kemudian, masa kelam ini semakin gelap di tahun 2020-2021.
Di tengah-tengah era tersebut, tepatnya tahun 2018-2022, Faker benar-benar “kekeringan” gelar. Pada tahun 2020, T1 gagal lolos ke Worlds. Pada tahun 2021, Faker sempat beberapa kali digantikan dari starter lineup. Meskipun tetap menunjukkan performa impresif secara individu, tim berjuang keras untuk menemukan stabilitas dan meta yang tepat.
Di tahun 2023, Faker juga sempat mengambil istirahat dari kompetisi selama tiga minggu setelah cedera lengan dan tangan kanan yang mempengaruhi permainannya. Namun, era kelam tersebut kemudian berakhir di tahun 2023 saat ia dan timnya kembali meraik gelar World Champion.